Tak perlu kau bandingkan
Keberanian ibumu dengan keberanian seorang jenderal,
Seorang jenderal mengirimkan perwira-perwiranya untuk tertembak peluru di garis depan
Tapi ibumu memberikan badannya agar tak satu pun peluru yang dapat mengenaimu..
Tak perlu kau bandingkan
Wibawa ibumu dengan wibawa seorang sersan
Seorang sersan perlu melayangkan tamparan untuk membuat prajuritnya mengerti
Tapi ibumu hanya butuh menyentuh lembut pipimu untuk membuatmu mengerti
Tak perlu kau bandingkan
Indahnya suara ibumu dengan dentingan suara harpa
Harpa butuh puluhan senar logam untuk membuai perasaanmu
Tapi ibumu hanya butuh satu pita suara untuk membuatmu terlelap
Tak perlu kau bandingkan
Kecerdasan Ibumu dengan kecerdasan seorang dokter
Dokter butuh stetoskop dan tensimeter untuk mengetahui kondisimu
Tapi ibumu hanya butuh firasat dan naluri
Tak perlu kau bandingkan
Keterampilan ibumu dengan kepiawaian chef ternama
Chef butuh caviar sampai wine untuk menghidangkan makan malam yang berkesan
Tapi ibumu hanya butuh nasi dan telur mata sapi untuk menghidangkan sarapan terbaik untukmu
Tak perlu kau bandingkan
Kedisiplinan ibumu dengan ketepatan jam alarm
Jam alarm bisa kau suruh diam dengan mudah
Tapi ibumu tak’kan pernah berhenti bertanya, “Nak, sudah shalat?”
Tak perlu kau bandingkan
Eloknya paras ibumu dengan kilauan rembulan
Rembulan terkadang malu akan noda di wajahnya, sesekali ia muncul, sesekali ia muncul separuh, sesekali ia muncul seperempat, bahkan seringkali ia hilang
Tapi ibumu cukup percaya diri dengan hanya berbekal pujian dari suaminya,
Tak perlu kau bandingkan
Terangnya cahaya ibumu dengan gemerlap bintang
Bintang hanya berani mengerling genit untuk menghiburmu dari jarak ribuan tahun cahaya
Tapi ibumu berani menghampirimu, menemanimu, dan menerangi hatimu yang begitu gelap
Tak perlu kau bandingkan
Ketulusan Ibumu dengan gelora asmara kekasihmu
Kekasihmu akan kehilangan senyumnya jika kau lupa mengucapkan “Aku Sayang Kamu”
Tapi Ibumu selalu menanti kata itu dengan sabar, tanpa meminta, dan tetap tersenyum
Tak perlu kau bandingkan
Keanggunan Ibumu dengan keanggunan seorang ratu
Seorang ratu hanya bisa berdiri angkuh di atas singgasana
Tapi bukankah surga ada di bawah telapak kaki Ibu?
Tak perlu kau bandingkan
Kehangatan ibumu dengan kehangatan sang mentari
Mentari hanya membagi kehangatannya untuk bumi, membiarkan Pluto menggigil kesepian
Tapi ibumu menghangatkan kau dan seluruh saudaramu dalam pelukannya
Tak perlu kau bandingkan
Kokohnya ibumu dengan kokohnya lempeng benua
Lempeng benua mungkin bisa menampung air samudera dan lautan
Tapi hanya ibumu yang bisa menampung air matamu
Jangan kau sebut ibumu sebagai malaikat penjaga
Karena ia terlalu lembut untuk kau sebut penjaga
Dan ia terlalu tangguh untuk kau panggil malaikat
Panggilah dia “Ibu”
Panggilah dia “Mama”
Panggilah dia “Bunda”
Panggilah dia “Ummi”
Karena itulah panggilan yang paling mulia untuknya
Satu-satunya panggilan yang pantas menggambarkan kehebatannya
Selamat Ulang Tahun Ibu
Ciptaan Tuhan paling Luar Biasa yang Pernah Aku Lihat
Ananda Auzan Abirama



makin dibaca, si caviar, wine, dan chef semakin terasa aneh…
Tapi bagus banget kok..